Salinan

Munajat

Mardhiah Hayati:



MUNAJAT



Kalau di dalam sunyi
di akhir salat isya’
adakah kau dengar pula,
do’a hamba?



Tuhan, yang kau bisikkan di hati ini
membuat aku memeluk sudah
tiang yang berdiri megah
bisikan terus, O Tuhan!
dan tangan ini
akan menguatkan pegangan …………….
Tuhan, jalan yang kau bentangkan
bagiku masih kelam
benderangkan sinarMu, O Tuhan!
hingga akan nampak
indahnya, lurusnya jalan ……………………..



Tuhan, di dunia dan akhirat
aku ingin mengabdi
pada api Islam abadi
pimpin aku!
berkati perjuanganku!



Tuhan, aku ingin maju
menerjang rintangan engkar
di dadaku biar menggema
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!



Teruntuk Ayah dan Bundaku tercinta






DI AKHIR SALAT ISYA
5 DISEMBER 1976



DJAKARTA



Sumber: Buya Hamka (Dirayu Suara Azan)

1

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta





Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu



Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban



Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban



Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu



Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya



Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan



Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan



Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong



Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.






WS Rendra



Sumber

mansuhkan-ppsmi-besar

Suara dari Dinding Dewan

Oleh: A. Samad Said




Dewan Sastera
Julai 1997




Bahasamu suara resah dan batin rimba

berkali diyakinkan wira bangsa.

Kebingungan empat dekad merdeka.




Angkasa, samudera, saham dan jentera-

gunung-ganang ilmu tak terlidah bangsamu,

dikata yakin wira bangsa.

Lalu terkuak gerbang pustaka, bahasaku

menjadi pengembara turun melata ke lurah

garang sesekali hanya demi pilihan raya.




Kalau ditanya pintu dan jendela,

lantai, genting dan anak tangga

(kalau takhta bahasa itu masih ada);

kalau jujur dihujah sejarah dengan warkah

dan watikah (kalau sejarah benar ada,

juga masih dipercaya); pintu dan jendela,

lantai dan genting, juga anak tangga,

tetap juga bersepi, termengah,

meniup bara menjadi api mimpi

kerlip kebingungan empat dekad ini.




Bahasa yang akan terus berkata

(detak nafas yang tak wajar kalah)

bahasa itu ada dalam dewan ini-

Tulen. Letih. Genting.

Bahasa itu akan terus berkata

tentang lara dan luka bangsa.

Luka itu ada dalam dewan ini-

Ikhlas. Pedih. Gering.




Aku nelayan mengetuk dinding dewan

terdengar geletar suara bahasa terseksa,

terjerit sama kealpaan purba.

Tapi, benarkan sesekali aku berduka,

kau tahu, kau kenal-

nelayan yang terlalu mengasihi bangsa-

benarkan ia sengsara demi bahasa.




Dan jangan dimarah jika dia

merundingi ular dan katak,

badak dan biawak;

jika dia kembali menyelongkar gua

mentafsir khazanah Hang Tuah.

Juga jangan tersentak jika yang

tersua hanya himpunan tulang wira

bersuara tak berbahasa,

berbahasa tak bertakhta.




Dan jika lampu tersorot, pentas

terbuka, dan pemimpin tulen tiba-tiba

tiada, jangan dimarah jika aku

merujuk semula kepada ular dan katak,

kepada badak dan biawak-

suara warga resah dari belantara bahasa.




Bahasa terkadang sungai keruh,

bukit gondol, mengkarung lelah,

elang sugul. Dan ketika wira tiba

-pagi jerih, malam letih-

bahasa hanya layar yang rabak

atau kelambu yang terlalu hapak. Dan

di sisi gelang kaki

(ketika hiasan)

di bawah tudung saji

(ketika santapan)

bahasa-gambus retak, juga nasi kerak.




Bahasa wajarnya mahligai raja, hikayat

rahsia, suara setinggan, tengkar calon,

saham anugerah dan dana menteri.

Bahasa selalunya impian awal, khayalan akhir.

Sekali janji, sekali nafi;

sekali pancang, sekali pincang.

Nelayan yang terlalu mengasihi bahasa

kini benar-benar kara digugah samudera.




Lidah tercalur terlalu lama

nelayan kehilangan peta kata-

dalam dingin dan kencang angin

bendera yang dijulang

jika masih di tiang

ia kuncup ia bimbang.




Tanjak yang segak

jika masih di kepala

ia basah ia resah.

Bahasa masih impian awal, khayalan akhir,

sekali janji, sekali nafi;

sekali pancang, sekali pincang.

Mungkin ini mimpi juga

di atas saham mewah

di tengah ladang golfa-

wabah keharuan dekad merdeka.




Suara dari dinding dewan

sayup, tapi nyata.




Dari renyai abjad

ke gerimis kata-suara itu silap mata:

Kita tanam tunggul

mercup keris, berubah menjadi ular,

berkisar menjadi istana, beransur

menjadi buaya, bergegas menjadi

biawak, terjelir menjadi lidah,

dan sedetik menjadi wira.

Sedetik saja.




Dan oleh sumpah silap mata:

Wira kembali menjadi lidah,

terjelma biawak, teriras buaya,

terbangun istana, terjalar ular,

terhunus keris sebelum menjadi

tunggul semula.




Empat dekad sudah.




Suara dari dinding dewan

sayup, tapi nyata.




Lalu, aku sayu dan aku pilu;

lalu, aku ragu dan aku malu,

watikah rasmi dari luar

disokong badai jampi liar.




Lidah yang diluhuri maruah

dikelar sendiri, mengapa?

Kerana kita membeli harta

dengan seni dan bahasa?

Atau kita membeli ilmu

yang hanya mencerna harta?




Aku terlalu resah dan tua

untuk menghadami siasah-

laju kaki dari roda

lebat saham dari hikmah.

Mungkin ini hanya mimpi.

Kita akan menjadi pengembara

bahasa jati penghalaunya.




Benarkan sesekali aku berduka

nelayan yang terlalu mengasihi bangsa,

benarkan lukanya didera samudera.

Dan usah mencarinya

sebelum dan sesudah pilihan raya-

ia telah tergelongsor jauh ke lurah

jaring kebingungan tenat bahasa.




Empat dekad bahtera bangga

anak cucu wajar menduga

mereka khusyuk atas sejadah

depan al-Quran mereka bertanya:

Buah ranum pada tangkai

bahasa gugur dari hati-

sekali janji, sekali nafi;

sekali pancang, sekali pincang,

iktibar apakah semua ini?




23-25 Mei, 20-22 Jun 1996




Catatan:

Antara puisi yang paling sering dibaca, dan setiap kali mendeklamasinya, setiap kali itu pula aku terasa dilukai. Puisi luka ini kemudian disusuli “Orang Tua dari Sejarah” yang ditulis dalam abad yang lain.

Krisis Institut Pengajian Tinggi Malaysia (2010)

mati dalam perjuangan lebih mulia dari hidup dalam penindasan

Untuk Ibu Pertiwi

Bukit-bukit di negeriku kini tenggelam
Oleh darah dan air mata
Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anaknya yang merantau?
Untuk masyarakatnya yang sengsara?
Apa pula gunanya keluh-kesah
Seorang penyair yang sedang tidak di rumah?
Seandainya rakyatku mati dalam pemberontakan menuntut nasibnya,
Aku akan berkata “Mati dalam perjuangan
Lebih mulia dari hidup dalam penindasan”
Tapi rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
Kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka,
Dan penderitaan adalah tanah air mereka

Ingatlah saudaraku,
Bahawa syiling yang kau jatuhkan
Ke telapak tangan yang menghulur di hadapanmu,
Adalah satu-satunya jambatan yang menghubungkan
Kekayaan hatimu dengan cinta di hati Tuhan.

~ Khalil Gibran  (1833-1931)

Penggunaan kalimah “Allah”

Islam melarang umatnya dari bercakap mengenai perkara yang ia tidak ketahui. Terutama mengenai perkara agama. Maka oleh kerana itu saya bawakan di sini hujah menarik dari murabbi yang dicintai, Tok Guru Haji Abdul Hadi Awang mengenai isu penggunaan kalimah ALLAH ini. Diharap dapat ambil pengajaran.

Penggunaan kalimah “Allah”

oleh Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang, Presiden PAS

Penggunaan kalimah ”Allah” oleh penganut agama bukan Islam telah menjadi bahan polemik hangat dalam negara kita, dan ianya menjadi semakin panas setelah pihak Mahkamah Tinggi membuat keputusan memberi keizinan kepada pihak gereja Katholik menggunapakai perkataan Allah dalam bahan penerbitan mereka. Realiti kehidupan dalam negara kita ialah, kedudukan masyarakat Kristian adalah dalam lingkungan kehidupan masyarakat umum yang hidup secara bersama, khususnya masyarakat yang hidup di dalamnya umat Islam, mahu tidak mahu ianya akan menyentuh perasaan mereka, kerana perkataan Allah adalah sangat mulia di sisi umat Islam.

Apa yang menghairankan ialah, sebelum ini pengamal ajaran Kristian itu menyebut ‘tuhan’ dengan bahasa mereka masing-masing. Ada pun umat Islam yang terdiri daripada berbagai bangsa dan bahasa tetap berlafaz dan menulis dengan perkataan “Allah” dari kitab suci mereka (Al-Quran). Perkataan “Allah” ini tidak diterjemahkan lagi ke dalam bahasa masing-masing, kerana perkataan Allah tidak mampu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, dengan berpegang kepada makna asalnya dalam bahasa Al-Quran.

Persoalannya ialah, adakah ianya boleh dibenarkan begitu sahaja di atas konsep kebebasan beragama? Hakikatnya, kebebasan secara saksama seharusnya mempunyai batas sempadan yang tidak menimbulkan masalah sehingga boleh mencetuskan perkara yang boleh merosakkan hubungan sesama manusia. Jangan sampai kita ‘terbabas’ dalam mencari kebebasan. Perkara ini perlu dijawab secara ilmu, kerana umat Islam menyebut dan menulis kalimah Allah mengikut maknanya yang sebenar sehingga menjadi akidah yang menjadi asas kepada amalan mereka.

Apa yang perlu difahami ialah, adakah penggunaan perkataan Allah oleh penganut agama lain itu adalah mengikut makna perkataan “Allah” yang tepat, dengan maksudnya yang sebenar dari segi bahasa Arab? Atau adakah mereka yang bukan Islam itu memakai perkataan itu dengan mempunyai maksud mereka sendiri yang tidak tepat mengikut bahasa bangsa yang menggunakannya, sehingga ianya boleh menjadi ejekan atau mengurangkan maksudnya sehingga menyentuh perasaan penganut Islam yang memuja kalimah ini? Suatu hakikat yang perlu difahami dengan terang dan nyata ialah, bahawa umat Islam di serata dunia yang terdiri daripada berbagai bangsa dan bercakap berbagai bahasa pula, sedang menggunakan perkataan “Allah” mengikut maksudnya yang sebenar inilah.

Perkataan Allah disebut oleh orang Arab atau pengguna bahasa Arab yang menganut berbagai agama, sama ada penganut Yahudi, Kristian dan penyembah berhala sejak dahulu kala. Al-Quran menyebut secara jelas bahawa penganut agama-agama itu menyebut dan menulis perkataan Allah.

Firman Allah bermaksud:

Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk-makhlukNya), sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Maka bagaimana mereka tergamak dipalingkan (oleh hawa nafsunya daripada mengakui keesaan Allah dan mematuhi perintahNya)?. (Surah al-Ankabut: 61)

Firman Allah bermaksud:

Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang menurunkan hujan dari langit, lalu ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya? sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Ucapkanlah (wahai Muhammad): “Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian), bahkan kebanyakan mereka tidak memahami (hakikat tauhid dan pengertian syirik). (Surah al-Ankabut: 63)

Firman Allah bermaksud:

Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Ucapkanlah (wahai Muhammad): “Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian – tidak mengingkari Allah), bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat tauhid dan pengertian syirik). (Surah Luqman: 25)

Firman Allah bermaksud:

Dan demi sesungguhnya! jika engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang mencipta langit dan bumi?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah (kepada mereka): “Kalau demikian, bagaimana fikiran kamu tentang yang kamu sembah yang lain dari Allah itu? jika Allah hendak menimpakan daku dengan sesuatu bahaya, dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayanya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya itu?” Katakanlah lagi: “Cukuplah bagiku: Allah (yang menolong dan memeliharaku); kepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri”. (Surah az-Zumar: 38)

Firman Allah bermaksud:

Dan demi sesungguhnya! jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” sudah tentu mereka akan menjawab: “yang menciptakannya ialah Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengetahui”. (Surah az-Zukhruf: 9)

Firman Allah bermaksud:

Dan demi sesungguhnya! jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah!”. (jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan (dari menyembah dan mengesakanNya)? (Surah az-Zukhruf: 87)

Ayat-ayat tersebut di atas mendedahkan bahawa orang-orang bukan Islam yang menganut berbagai agama itu mengaku wujudnya Tuhan yang bernama Allah mengikut naluri dalam Tauhid Rububiyyah (adanya Tuhan Pencipta Alam) dan ianya hanya sekadar itu. Namun kepercayaan mereka sebegini tidak menepati hakikat dari makna perkataan Allah mengikut maknanya yang sebenar, iaitu supaya mengesakan Allah dalam ibadah dan cara hidup seluruhnya.

Hari ini kita melihat mukjizat Al-Quran, apabila mereka memaksa diri untuk menggunakan perkataan Allah, pada hal selama ini mereka menggunakan perkataan yang menamakan Tuhan dengan bahasa masing-masing seperti God dan Lord; dan kalau itulah Allah mengikut kefahaman mereka maka ianya adalah tidak tepat dengan maksudnya.

Umat Islam tidak boleh memaksa kefahaman mereka yang salah ini untuk mengikut ajaran dan takrifan bahasa umat Islam, walaupun mereka percaya kepada Tuhan Yang Maha Berkuasa, tetapi mereka melantik tuhan-tuhan yang lain daripadanya dengan berbagai-bagai cara. Kalangan penganut Kristian dengan kepercayaan Trinity dengan mengadakan isteri dan anak bagi Tuhan Yang Maha Esa dan Yang Maha Suci itu. Agama yang lain menambah perlantikan Tuhan mengikut kefahaman mereka masing-masing.

Mengikut ajaran Islam, perkataan Allah ialah salah satu daripada nama-nama yang banyak bagi Tuhan Yang Maha Esa (Al-Asma Al-Husna).

Imam Al-Baihaqi menulis dalam kitabnya (Al-Asma wa Sifat).

“Perkataan Allah itu ialah Tuhan Yang Maha Esa, tidak berbilang lebih dari satu dan tidak ada sekutu bagiNya (sama ada dinamakan bapa, anak dan apa sahaja). Allah mengikut bahasa Arab yang fasih dan nyata bermaksud, Dia Sahaja Tuhan, Yang Maha Esa, tidak ada lagi tuhan yang lain daripadaNya. Perkataan Allah itu daripada perkataan aL-Ilah dengan menambah al kepada perkataan asal Ilah yang bermakna Tuhan secara umum. Apabila diletakkan alif dan lam (al) menjadi yang khusus satunya yang dikenali dan diyakini benarnya, kemudian dimudahkan sebutannya dengan membuang beberapa huruf, maka disebut Allah. Penambahan al dalam bahasa Arab bertujuan makrifah (yang dikenali) secara khusus yang tidak boleh dikelirukan dengan kepercayaan salah, iaitu “berbilang tuhan”.

Al-Quran mengajar cara penjelasan makna yang sebenar, begitu juga hadith-hadith Rasulullah SAW. Penjelasan inilah yang dinamakan sebagai ‘menyampaikan dakwah’, sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah SAW. Tanpa melarang mereka dari menyebut perkataan Allah, tetapi kita memberi penjelasan berdasarkan ilmu, bahawa penggunaan perkataan Allah oleh mereka yang percaya adanya sifat ketuhanan dan nama ketuhanan yang lain daripada Allah adalah tidak tepat.

Apabila Rasulullah SAW menghantar surat kepada raja-raja yang menganut agama kitab, dan disebut dalam surat perutusan itu firman Allah yang menjelaskan kepercayaan yang sebenar kepada Allah yang bermaksud:

Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai ahli kitab, marilah kepada satu kalimah yang bersamaan antara kami dengan kamu, iaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, dan kita tidak sekutukan denganNya sesuatu jua pun; dan jangan pula sebahagian dari kita mengambil akan sebahagian yang lain untuk dijadikan orang-orang yang dipuja dan didewa-dewakan selain daripada Allah”. Kemudian jika mereka (ahli kitab itu) berpaling (enggan menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah kamu bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”. (Surah Ali Imran: 64)

Perutusan Rasulullah SAW mendedahkah bagaimana golongan ahli kitab (Kristian dan Yahudi) memakai perkataan yang sama apabila menyebut perkataan Allah, seterusnya dijelaskan dengan makna aqidah yang tepat secara ajaran tauhid, iaitu mengesakan Allah tanpa syirik, sama ada syirik itu melakukan upacara ibadat dengan menyembah tuhan-tuhan yang lain daripada Allah, atau mematuhi hukum-hukum dan undang-undang ciptaan para ahli agama (pendita) dan pemimpin-pemimpin (arbab) yang mencipta undang-undang dan hukum yang menentang hukum Allah. Mereka telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dalam kitab yang diturunkan kepada rasul mereka sendiri, atau mengharamkan apa yang dihalalkan, atau memberi hak ketuhanan kepada ahli agama sehingga boleh mengampunkan dosa yang menjadi hak Allah sahaja.

Kesimpulannya, kita tidak boleh melarang mereka menggunakan perkataan Allah di kalangan mereka sendiri, dalam ibadat mereka dan amalan mereka, walau pun salah maksud dan maknanya yang asal mengikut bahasa kita. Adapun menggunakan perkataan Allah oleh mereka terhadap masyarakat Islam untuk menyebarkan agama mereka dengan fahaman mereka, atau menjadikan perkataan Allah sekadar mengubah jenama bagi melariskan barangan dalam masyarakat Islam, tidak boleh dizinkan sama sekali. Ini adalah kerana menyalahgunakan perkataan Allah yang Maha Suci kepada umat Islam dan  bercanggah dengan makna mengikut bahasa yang diamal oleh umat Islam, adalah dikira menodai kesucian dan kemurnian kalimah Allah di hadapan umat Islam.

Imam Ali K.W, menegaskan kepada mereka yang menyalahgunakan perkataan yang benar dengan tujuan yang salah, dengan apa nama sekalipun:

(Kalimahnya benar tetapi dimaksudkan dengan tujuan yang salah).

Kalimah Allah adalah paling benar, tetapi kalau menulis atau menyebut perkataan Allah laksana memakai jenama barangan untuk melariskan jualan di tengah masyarakat umat Islam, maka ianya sangat menyentuh sensitiviti umat Islam. Keadaan ini akan menyebabkan semua kalangan umat Islam yang berbeza pertubuhan (NGO), fahaman politik dan individu, bersatu untuk mengeluarkan  suara hati mereka yang sangat memuliakan kalimah Allah. Suasana sebegini boleh menimbulkan ketegangan dalam masyarakat majmuk yang ada dalam negara kita.

Al-Quran juga memerintah penganutnya supaya tidak menghina dan mencaci penganut agama lain sehingga menyebabkan mereka mencaci Allah.

Firman Allah yang bermaksud:

Dan janganlah kamu cerca benda-benda yang mereka sembah yang lain dari Allah, kerana mereka kelak, akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan. Demikianlah Kami memperelokkan pada pandangan tiap-tiap umat akan amal perbuatan mereka, kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu ia menerangkan kepada mereka apa yang mereka telah lakukan. (Surah al-An’am: 108)

Demikianlah keterbukaan Islam terhadap kebebasan beragama dengan batas sempadan yang tidak menegangkan hubungan dalam masyarakat berbagai agama.

Wallahua’alam.

7 Januari 2010

siapa orang kita?

Artis: Kembara

Pencipta: M. Nasir

Album: Lagu-Lagu Dari Filem Kembara Seniman Jalanan

manakah teman temanku

yang sama berjuang dahulu

hilang sudah.. hilang sudah..

kebendaan menggelapkan

lupa dengan perjuangan

lupa sudah.. lupa sudah..

manakah semangat dulu

atau hanya helahmu..

hanya palsu.. hanya palsu

siapa !!!!

siapa orang kita..

mana !!!!

mana orang kita

hela !! hela !! hela !! hela !!

nafasku hela..

kita harus bertemu,

buat rencana baru..

kita satu !!!!

hela !! hela !! hela !! hela !!

p/s: lirik di ambil dari: http://bloghijat.blogspot.com/2008/12/siapa-orang-kita.html

Aku mahu hidup begini Seribu tahun lagi

Aku warganegara merdeka

Kemerdekaan negara, kemerdekaanku

Kebebasan padaku,

Hanya satu beban…

Apa pemimpin kata,

Aku ikut sahaja…

Akal yang diberi tuhan,

Tak payah digunakan

Kecuali untuk cari makan…

Keraguan dan kerinduan (jika ada)

Ku bawa berlari,

Berlari dari rumah ke pejabat,

Dari pejabat ke rumah

Hingga hilang segala sangsi,

Dalam bunyi lantang peti TV

Tiap-tiap malam hari…

Sambil ternganga tengok TV,

Aku menjilat jari…

Begitu sedapnya ayam Kentucky

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mahu hidup begini

Seribu tahun lagi

(Saleh Ben Joned, 1987)

copy paste: http://lagakepala.blogspot.com/2009/08/merdeka.html

UNTUK ANAK ANAK MUDA YANG BERANI

anak anak muda hari ini kamu turunlah ke jalan raya
acungkan tangan kamu ke udara
laungkan dan pekikan kebencian
terhadap semua kezaliman

anak anak muda hari ini kamu turun ke jalan raya
kamulah pereka dunia
anak anak muda kamu turun ke jalan raya
kamulah pengubah dunia

anak anak muda hari ini kamu turun ke jalan raya
genggam tangan kekasih mu
genggam tangan kawan mu
genggam tangan sahabat mu
simpaikan semangat
dobrak kezaliman

anak anak muda hari ini kamu turun ke jalan raya
sorak soraikan lagu kebebasan
kawan kawan kamu di tehran – istanbul -athens – baghdad – paris – london
sebaris bangun melakar sejarah

anak anak muda katakan kepada dunia
datanglah seribu setan
datanglah seribu puaka
datanglah seribu afrit
kamu anak muda tetap sebaris
mengacung tangan melakar dunia

anak anak muda yang gagah berani
kamu ke jalan raya
kamu membuat sejarah
anak anak muda yang gagah berani
kamu adalah sejarah nusa dan bangsa

anak anak muda
dunia ini akhirnya adalah milik kamu !

- hishamuddin rais

http://tukartiub.blogspot.com/2009/07/jaga-diri-jaga-diri.html

Kisah Selatan Thai…

Salam.. Kita sering mendengar berita mengenai penderitaan saudara kita di Palestin, Iraq, Afghanistan yang terletak beribu-ribu batu dari tempat kita. Boleh dikatakan setiap tahun kita akan mengadakan majlis mengutuk Amerika Syarikat dan Israel kerana kebiadaban mereka. Namun, sering kita lupa mengenai nasib saudara kita yang terletak hanya beberapa kilometer dari tempat kita. Saudara kita ini bercakap Bahasa Melayu, makan nasi seperti kita, pakai baju melayu, baju kurung seperti kita, namun mereka sering dilupakan. Mereka yang penulis maksudkan adalah umat Islam di Selatan Thai.

Umat Islam di Selatan Thai sejak dahulu terus-menerus diselubungi dengan kesedihan dek kerana kekejaman kerajaan Thailand. Walaupun terkenal sebagai wilayah Islam yang melahirkan ramai ulamak melalui sistem pondok nya, wilayah di Selatan Thai telah dinodai kesuciannya oleh penguasa Thailand.

Lihat sajalah pembukaan pusat-pusat maksiat di Selatan Thailand. Hingga sekarang yang terkenal bukan lagi sekolah pondok, namun pusat pelacuran. Namun oleh kerana kita lebih ghairah dengan isu Palestin, maka kita sering lupa pada mereka.

Di sini penulis ingin berkongsi satu siri gambar yang penulis kutip dari sebuah laman web. Bersama lah kita ambil pengiktibaran.

Fakta kes:

- Kejadian yang berlaku di Masjid Al-Furqan di Kampung Air Tempayan (Sg Golok) ini meragut nyawa 11 orang yang tidak bersalah.
- Kejadian berlaku amat pantas kira-kira lima minit di mana empat lelaki dikatakan menyerbu masuk ke dalam masjid dari arah pintu belakang manakala dua lagi dari arah tepi.
- Kesemua mereka bersenjatakan rifel M-16 dan pump gun serta memakai seragam hitam serta bertopeng.
- Serangan tersebut turut menyebabkan imam masjid, Wan Nasir Wan Abdullah, 62, terkorban manakala 12 parah dan dua terselamat.

Gambar diambil dari: JustKhai