Nukilan

Suara Dari Dinding Dewan [video]

“Suara dari dinding dewan… sayup tapi nyata…”

1

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta





Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu



Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban



Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban



Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu



Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya



Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan



Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan



Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong



Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.






WS Rendra



Sumber

cerita bukan niaga

kawan menulis menulis untuk bercerita,

bukan untuk berniaga.

syair sungai sungai

izinkan aku menulis syair ku di sungai sungai.
kerana selagi mana sungai sungai itu mengalir,
selagi itu lah syair ku bisa kau baca.

bukan gurukah itu?

:: buat semua guru dan pensyarah yang pernah mengajarku erti sebuah kehidupan… ::

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang peguam,

berkata hingga ia bisa berhujah di mahkamah?

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang irsiniur,

mengira hingga ia bisa membina menara ke langit?

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang ustaz,

mengaji hingga ia bisa mentafsir al-Quran?

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang menteri,

berbakti hingga ia bisa membantu bangsanya?

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang seniman,

menulis hingga ia bisa dianugerah seniman negara?

bukan gurukah itu,

yang mengajar sang doktor,

membalut luka hingga ia bisa membelah otak manusia?

bukan gurukah itu,

yang memujuk sang peguam ketika ia menangis di hari pertamanya?

bukan gurukah itu,

yang menemani sang irsiniur ketika ia ingin ke tandas?

bukan gurukah itu,

yang mencuci seluar sang ustaz ketika ia kencing ketakutan?

bukan gurukah itu,

yang memberi wang ketika sang menteri tidak membawa bekal?

bukan gurukah itu,

yang menghantar sang seniman ketika ia ketinggalan bas?

bukan gurukah itu,

yang bersengkang mata menanda kertas sang doktor?

bukan gurukah itu?


Bukit Tok Beng, 15 Mei 2010

hidup_revolusi

Hidup Revolusi! (Bahg. 8) : Akhir, Sir! Bukan Awal!

Nasir mula bertatih di jalan dakwah dengan dipimpin oleh Zikri, naqib usrahnya. Naqib yang cukup hebat, pada pandangan Nasir. Dan juga sangat cekal. Mana tidaknya, walau anak usrah Cuma 2 orang, usrah tetap diadakan setiap minggu, hanya tiada jika ada sebarang hal yang tak mampu dielak. Itupun dipastikan agar berganti. Tak mungkin Nasir dapat melupakan naqibnya ini. Masih terngiang di benak Nasir nasihat dari Zikri…

“Sir, kerja dakwah ini berat amanahnya. Bukan sembarangan orang yang terpilih untuk memikulnya. Bahkan yang sudah dipilih pun masih boleh tercabut jemputannya. Istiqamah kita pada jalan ini bukan bergantung pada hebatnya pidato kita, bukan bergantung pada tajamnya fikiran kita, bukan juga pada hebatnya idea kita. Namun yang menjadi rantai mengikat kita pada rantaian dakwah ini adalah keikhlasan hati kita. Kenapa kita memilih jalan dakwah ini? Itu kita perlu muhasabah.”

“Kerana orang kah? Maka pabila orang itu keluar, kita juga ikut sama? Kerana kepentingan peribadi kah? Maka pabila tercapainya atau mustahil untuk dicapainya maka kita meninggalkan jalan suci ini? Atau adakah mudah-mudahan kerana akidah? Maka selagi jasad dihuni dengan cahaya akidah selagi itulah kita akan teguh menempuh jalan dakwah ini. Jalan ini penuh duri, Sir. Jangan diharap hamparan sutera lembut di perjalanan. Usah dimimpi wangian harum kasturi di kiri kanan. Yang ada hanyalah duri, kerikil, selumbar bisa yang menembus kaki siapa saja yg menginjaknya. Jalan ini penuh hanyir darah, darah yang akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.”

“Tapi usah lah segala ini menggugat keteguhan cita-cita dakwah kita. Biar jalan ini berlumpur, biar jalan ini berdarah, biar jalan ini beronak duri, kita akan tetap melaluinya. Kerana jalan ini, hanya jalan inilah yang akan menjadi anak tangga kita menuju ghoyatuna… Kita ini umpama pemungut sampah. Sampah yg kita pungut itu ada yang kotor, ada yang berair. Namun itu semua kita ketepi, demi untk memastikan kerja kita sebagai pemungut sampah terlaksana.”

“Ingat Sir, kalau kita berhajat untuk bertemu al-Khalik dengan penuh kemuliaan, tak cukup kita berharap semata pada amalan solat, puasa kita. Dengan dakwah kita inilah, kita menuai benih-benih yang akan kita tuai di sana nanti. Jangan kita berbangga dapat berada di atas jalan dakwah. Kita perlu ingat, mereka yang lebih terdahulu, mereka berdakwah dengan kesungguhan yang tak mampu kita tandingi. Namun di mana mereka sekarang? Tak ada siapapun yang bisa memberi jaminan bahawa ia akan terus berada di jalanan dakwah. Tiada Sir, tiada… Kita semua berada di jalan ini atas jemputn dari al-Malek… Dia yang memberi hidayah, dan dia juga yg mencabut hidayah. Usah kita berbangga dengan asalan kita.”

“Bal’am ibn Baura, siapa dia? Ulamak besar wali Allah. Doanya dimakbul. Hatta tatkala dia berdoa agar Musa disesatkan di padang pasir sekalipun, Allah makbul! Tapi bagaimana akhiran Bal’am? Umpama anjing! Dan Fudhail bin Iyadh, siapa dia asalannya? Kaki zina! Namun akhirannya seorang ulamak besar hingga buah tuturnya menggugur air mata Amirul Mukminin! Akhir Sir, akhir! Bukan awal! Usah kita berhabis masa berfikir apa untuk disumbang pada jalan dakwah ini di masa hadapan. Sebaliknya habiskan dengan berfikir apa kita mampu sumbangkan sekarang. Usah dijamin apa yg tidak kita tahu. Buat saja dahulu selagi kita berada dijalanan ini. Tentang akhiran kita, berserah saja pada Nya…”

hidup_revolusi

Hidup Revolusi! (Bahg. 7) : Nas Yang Tu Dah Mati!

“Sir, bangun Sir. Dah lewat ni. Kau tak nak pergi kelas ke?” suara Syukur memecah keheningan pagi. Mengejutkan Nasir dari tidur yang singkat.

“Kelas? Kelas apa pulak?”

“Kau dah lupa? Kan hari ni Dr. Hassan nak buat kelas ganti. Dah, pergi mandi cepat. Aku tunggu kau di kelas.”

“Ah.. malas lah aku nak pergi. Kau kirim salam je dekat Dr. Hassan tu.”

“La dia ni. Kau tak takut kena bar ke?”

“Aku baru ponteng 3 kali kelas orang tua tu…”

“Lantak kau lah.”

Syukur keluar meninggalkan bilik. Syukur adalah teman sebilik Nasir. Dialah antara yang terawal sedar perubahan pada diri Nasir. Mereka berdua memang rapat. Namun mereka agak kontra. Kalau Nasir gila beraktivisme, Syukur langsung tak peduli itu semua. Tapi itu bukanlah halangan kepada persahabatan mereka.

Nasir terus baring di katil. Terasa empuk sungguh katil buruk di pagi begini. Tiba-tiba Nasir teringat pada Nita. Dicapainya handphone, terus dipanggil Nita. Ingin dia mencuba nasib. Mana lah tahu terbuka hati Nita untuk memaafkannya. Lagipun tak kan Nita nak merajuk dengan dia lama-lama.

Lama juga masih belum bersahut. Nasir sudah putus asa pabila terdengar di hujung sana,

Hello?” akhirnya Nita jawab juga panggilan Nasir.

“Kenal saya lagi?” Nasir cuba bergurau.

“Tak kenal. Awak ni siapa?”

“Ala, saya Nasir, yang kacak tu..”

“Eleh, puji diri sendiri.”

“Hehe… Balas jugak ya Nita panggilan Nas… Ingat dah tak kan jawab lagi dah… Nita merajuk lagi dengan Nas?”

“Tak.. Nita dah penat merajuk.. Tak ada makna apa-apa kalau Nita merajuk sampai mati pun… Ni call pagi-pagi, tak ada kelas?”

“Ada. Kelas ganti. Tapi malaslah…”

“Laa, kenapa malas-malas ni?”

“Tak sedap badan lah.”

“Tak sedap badan? Habis macam mana nak berpidato nanti?”

“Pidato? Macam mana Nita tahu?”

Hello, I have Facebook too, okay? Dah keluar iklan..”

“Pidato tetap terus walau apa pun. Merangkak pun Nas sanggup!”

“Nas….”

“Ya?”

“Nas tak takut ke nak terlibat dengan benda macam ni?”

“Kenapa nak perlu takut?” Nasir mula kehairanan.

“Nas kan under scholarship? Nanti kalau kena gantung, macam mana? Siapa yang susah?”

“La, apa pulak kaitan biasiswa dengan apa yang Nas buat ni?”

“Kan dah jelas dalam borang perjanjian yang Nas tak boleh terlibat dalam politik? Nas, sabar lah, belajar dulu! Nita risau!”

“Apa yang Nita risaukan? Nita takut Nas kena buang? Takut biasiswa Nas ditarik balik? Kalau mereka nak tarik, biarkan! Ingat Nas lapar sangat dengan biasiswa tu? Apa, Nita ingat bila Nas terima biasiswa ni, maknanya Nas setuju untuk jadi kuli batak mereka? Buat apa saja yang mereka nak?”

“Tapi….”

“Apa tapi lagi? Biasiswa ni bukan alasan untuk Nas berhenti berjuang bersama mahasiswa!”

“Tapi kan mereka yang tanggung segala perbelanjaan Nas? Hormatlah mereka sikit, jangan jadi orang yang tak mengenang budi!”

“Kenang budi? Nita ingat duit ni duit kerajaan? Nita silap! Ni duit rakyat! Bukan duit mak bapak mereka! Duit ni berasalah dari kertas yang dibuat dari kulit rakyat! Tintanya dari darah rakyat! Air mata rakyat yang melarut tinta itu! Nas belanja duit rakyat, bukan duit kerajaan! Kerajaan dah lama bebankan rakyat dengan macam-macam bebanan! Mereka tak layak nak kata duit ni duit mereka!”

“Tapi Nas, kita ni kan pelajar lagi!”

“Jadi, kalau belajar lagi, kena ikut saja apa yang mereka kata? Angguk saja? Nas bukan ANJING!”

“Nas! Nas sedar tak Nas cakap dengan siapa sekarang ni? Ini Nita, Nas! Nita! Bukan kawan Nas! Ni Nita, kekasih Nas! Betullah apa yang Nita rasa selama ni, memang Nas dah berubah! Nas bukan lagi  Nas yang Nita kenal dulu! Mana pergi Nas yang Nita kenal di UiTM dulu? Mana pergi Nas yang sama-sama dengan Nita di Dataran Cendikia dulu? Mana!?”

“Nas itu dah mati! Nas yang tak tahu tujuan hidup, yang hanya tahu berseronok, dah mati! Nas yang terperangkap dalam dunia hedonis remaja itu sudah lama mati, Nita! Nas yang ada sekarang adalah Nas yang tahu apa tujuan hidupnya! Yang tahu bahawa hidup ini untuk berjuang, jadi mahasiswa bukan untuk berseronok di kampus menara gading, tapi untuk berjuang! Berjuang untuk rakyat! Dan memang Nas ini lah yang akan hidup selamanya! Jangan cari lagi Nasi yang lama kerana dia sudah mati! Tak akan hidup lagi!”

“Sampai hati Nas!”

- tuuuuut -

Nita mematikan telefon. Nasir terbaring di katil… Bingung. Kalut. Keliru.

Dan Nita terus bergelinangan air mata…

hidup_revolusi

Hidup Revolusi! (Bahg. 6) : Gegar Sudut Pidato!

“Esok jangan lupa, gegar sudut pidato!”

Tiba-tiba terngiang di kepalanya pesanan seniornya, Muhsin. Muhsin seniornya yang masih menghargai bakatnya. Jika kebanyakan ahli Kelab Cegah Mungkar (KCM) semakin menjauh, Muhsin tetap percaya pada Nasir. Buktinya, esok Nasir diberi peluang untuk menggegar pentas sudut pidato. Sudut pidato di UIA ini panjang sejarahnya. Dulu pernah ada, tapi diharamkan. Kini dibuka kembali. Semua kerana pindaan AUKU. Namun di awal pembukaan semula dulu sudut pidato ini agak hambar. Hanya isu umat sahaja yang dilaung. Maklumlah, universiti antarabangsa. Perlulah pidato yang berputar atas isu umat seantero dunia. Tapi ini sememangnya bukan taste KCM dan aktivis mahasiswa lain. Mereka mahu lebih! Dan tidak juga mereka punya masa untuk meneliti peraturan dan garis panduan sudut pidato ini. Bagi mereka, cabar kebebasan semaksimum mungkin. Tidak perlu fikir batasnya. Cakap sahaja. Laung sahaja apa isu pun. Jika Pentadbir tidak suka, itu tugas mereka untuk mengingatkan. Dan dengan sikap dan semangat inilah sudut pidato mulai panas. Nasir masih ingat lagi semasa kecoh isu Himpunan Mahasiswa dulu, ada pihak yang melarang mahasiswa menyertainya atas alasan tidak boleh bercakap tentang politik. Apa lagi, KCM terus membidas dengan menggunakan sudut pidato. Sudut pidato yang mulanya terletak di hadapan Bank Islam, diangkat beramai-ramai. Dijunjung hingga ke hadapan Darul Hikmah. Berbekalkan sebiji hailer, satu demi satu pimpinan KCM berpidato membidas pihak yang kurang ajar menghina mahasiswa itu. Namun tak sampai 30 minit, datang juga pengawal keselamatan menyuruh sudut pidato dihentikan. Suasana yang sudah sedia panas bertukar tegang kerana yang hadir menadah telinga bukan sikit anak, tapi hampir 300 orang. Semua bertambah semangat dicucuk dengan ucapan yang berapi-api. Mahu sahaja mereka menempeleng pengawal keselamatan yang berlagak tu. Namun demi keselamatan bersama, pimpinan KCM akur dan mula mengarahkan hadirin untuk bersurai.

Dan kerana ini, KCM menerima padah apabila tiga pimpinan tertinggi KCM termasuk Hisyam dan Muhsin dikenakan tindakan tata tertib. Kecoh juga dunia mahasiswa ketika itu. Dan menteri yang sepatutnya menjaga kebajikan mahasiswa hanya diam membisu. Tak mahu campur tangan dalam urusan universiti katanya. Tapi itu sedikitpun tak mematahkan semangat mereka. Malah semakin rancak pula mereka berpidato. Dari isu lubang tandas sampailah kepada isu cukai. Semua isu mereka sapu. Semua pidato dibuat atas pentas mahasiswa, bukan kerana pengaruh mana-mana pihatk. Dan kerana peristiwa ini, bertambahlah kagum Nasir kepada Hisyam dan Muhsin.

Dan esok sudut pidato akan bergema lagi. Isu yang akan dibincang adalah mengenai Goods & Service Tax yang hangat diperkatakan sekarang. Orang sudah dengar kata kerajaan. Sudah pula dengar kata pembangkang. Kini giliran mahasiswa pula menyuarakan pandangan mereka. Dan Muhsin beriya-iya mahu Nasir menjadi salah seorang pemidatonya. Walaupun tak disenangi oleh ahli KCM yang lain, Muhsin tetap bertegas. Dia malah mengugut untuk tidak turut serta dalam sudut pidato itu. Mengingat pada kehebatan Muhsin berpidato terpaksalah KCM akur dengan desakan Muhsin. Nasir juga menolak sebaik diberitahu oleh Muhsin. Namun dengan tegas Muhsin mengingatkan, “Ini perintah, bukan jemputan.” Terdiam Nasir. Nasir memang tak sanggup untuk membantah Muhsin. Dia sangat menghormati Muhsin sebagai salah seorang yang telah banyak membantunya. Terpaksalah Nasir terima saja pelawaannya. Fikir Nasir, ada baiknya dia turut serta esok. Bolehlah dia menyampaikan idea yang sudah bersawang dalam otaknya. Namun satu sahaja yang merisaukan Nasir, apa agaknya reaksi ahli KCM yang lain apabila melihatnya berpidato di sudut pidato yang cukup sinonim dengan KCM itu? “Ah, itu pentas mahasiswa, bukan KCM punya!” Nasir cuba memujuk hati.

Nasir cuba memejam mata namun segar benar rasanya malam ini. Jam sudah 3 pagi. Dipusing kiri, tidak kena. Dipusing ke kanan, kekok. Akhirnya Nasir bangun, dibuka kembali lampu di meja studynya. Dicapainya novel “Laila Majnun” yang dibelinya di Fajar Ilmu Baru dulu. Nasir memang menggemari karya-karya sastera klasik. Lebih-lebih lagi yang berasal dari dunia padang pasir. Dan Laila Majnun bagi Nasir merupakan salah satu karya agung terbaik pernah dibacanya. Membaca edisi terjemahan sahaja sudah cukup untuk menggetar jantungnya, bagaimana agaknya jika dia sudah mampu membaca dalam bahasa asalnya kelak. Dibeleknya satu persatu muka surat. Sampailah ke satu bahagian, dibaca dengan penuh debaran, “Aku adalah rembulan dan kau adalah matahariku yang memberiku cahaya dari kejauhan. Maafkan aku karena lintasan orbitku berbeda dengan lintasan orbitmu, sehingga membuatku jauh dari mu selalu…”

Tak tahu lah kenapa tiba-tiba berdebar hatinya tatkala satu persatu perkataan itu dibacanya. Tiba-tiba teringat Nasir pada Nita, buah hatinya. Sudah dua hari Nita merajuk dengannya. Semua gara-gara prasangka Nita terhadap Nasir. Apa tidaknya, Nasir yang hari ini sudah bukan Nasir yang dulu lagi. Sudah banyak perubahan pada diri Nasir. Nasir juga seakan sudah bosan dengan Nita. Itulah yang didakwa Nita. Dan tanpa sempat Nasir membela diri, terus Nita menjatuh hukum. Dan pada masa malam yang sunyi begini lah ingatan Nasir kuat benar kepada Nita. Sudah banyak kali dia cuba menghubungi Nita. Namun keras hati perempuan, batupun pecah. Nita tetap membisu. Memang marah benar Nita. Tidak pernah sebelum ini Nasir menerima pemulauan yang sebegini.

Nasir terus melayan perasaan. Tanpa disedari, terlelap juga dia di meja study

mati dalam perjuangan lebih mulia dari hidup dalam penindasan

Untuk Ibu Pertiwi

Bukit-bukit di negeriku kini tenggelam
Oleh darah dan air mata
Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anaknya yang merantau?
Untuk masyarakatnya yang sengsara?
Apa pula gunanya keluh-kesah
Seorang penyair yang sedang tidak di rumah?
Seandainya rakyatku mati dalam pemberontakan menuntut nasibnya,
Aku akan berkata “Mati dalam perjuangan
Lebih mulia dari hidup dalam penindasan”
Tapi rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
Kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka,
Dan penderitaan adalah tanah air mereka

Ingatlah saudaraku,
Bahawa syiling yang kau jatuhkan
Ke telapak tangan yang menghulur di hadapanmu,
Adalah satu-satunya jambatan yang menghubungkan
Kekayaan hatimu dengan cinta di hati Tuhan.

~ Khalil Gibran  (1833-1931)

hidup_revolusi

CERPEN: Hidup Revolusi! (Bahagian 5) : Siapa Bicara Tentang Revolusi?

"Aku rasa dah sampai masa kita jalankan kerja buat kita untuk peringkat seterusnya."

Sudah dua minggu Nasir memulaukan aktiviti Kelab Cegah Mungkar. Sudah tiada keinginan lagi dalam diri Nasir untuk aktif dalam KCM. Bagi Nasir lebih baik dia sendirian. Asal bebas bersama ideologi nya. Lagipun sekarang Nasir sudah punya “circle” nya sendiri. Kelompok sepertinya juga. Kelompok mereka yang sudah bosan dengan kemandulan intelektual dalam kalangan ahli gerakan mahasiswa Islam. Mereka terdiri daripada pelajar dari setiap Kuliyah di UIAM. KAED, Econs, IRK, semua ada berkumpul dalam perkumpulan ini. Setiap hujung minggu mereka akan berkumpul untuk berbincang mengenai perkembangan semasa. Di sini lah mereka saling bertukar pandangan, mengasah bakat untuk mengolah idea, menjana pemikiran kritis. Kadang-kadang mereka jemput juga “abang-abang” dari luar untuk sama berdiskusi dengan mereka.

Bagi Nasir tiada yang lebih menggembirakan selain dari duduk berdiskusi bersama mereka. Nasir selalu mengimpikan sebuah perkumpulan seperti Universiti Bangsar Utama. Maka bermula dengan seorang rakan, akhirnya mereka berjaya untuk membentuk satu perkumpulan. Lagak mereka umpama “think tank”. Namun oleh kerana mereka tidak punya pengaruh dalam mana-mana persatuan, maka kewujudan mereka seolah tidak diketahui langsung. Malah dalam kalangan ahli KCM sendiri pun tidak tahu mengenai keterlibatan Nasir dalam perkumpulan ini. Hanya dua tiga senior sahaja yang tahu.

Insiden ditegur itu sebenarnya bukanlah satu nya sebab mengapa Nasir menjauhkan diri dari KCM. Sudah lama sebenarnya Nasir memendam hasrat untuk keluar dari kelompok agama. Cacing kepanasan. Nasir tidak sanggup lagi untuk cuba menjadi alim, lebai semata bagi mendapat tempat dalam politik kampus UIAM. Sedikit demi sedikit, Nasir cuba menjauhkan diri dari KCM. Sikap KCM yang kadang-kadang seperti cawangan Parti Purnama mengecewakan Nasir. Nasir sentiasa berpegang kepada prinsip kebebasan mahasiswa. Nasir tidak suka jika mahasiswa menjadi jurucakap kepada mana-mana parti politik. Bagi Nasir mahasiswa harus bebas untuk menyatakan pendapat mereka tanpa mempedulikan kepentingan mana-mana parti. Namun KCM nyata sekali sering terpengaruh dengan kepimpinan Parti Purnama. Itu yang mengecewakan Nasir.

Nasir juga kecewa dengan sikap ahli KCM yang masih memandang rendah kepada nya semata kerana dia “orang luar”. Malah Nasir juga masih kabur dengan satu lagi organ mahasiswa di UIAM iaitu SATU, singkatan untuk Satu Umat. Organ mahasiswa yang menyatukan pelbagai persatuan di UIAM demi menghadapi pilihan raya kampus. Sikap pimpinan KCM yang seakan tidak berminat untuk menceritakan kepada Nasir mengenai SATU sangat mengecewakan Nasir. Nasir bukan mahu menjadi perisik. Dia sekadar ingin tahu mengenai dunia politik UIAM. Adakah kesetiaan selama 2 tahun kepada KCM masih tidak cukup? Selama 2 tahun Nasir tegar menyertai program KCM, biar yang rahsia atau terbuka, apa masih tidak cukup? Kenapa Nasir masih dianggap orang luar? Ini yang membuat Nasir marah, kecewa dan bosan. Dan peristiwa ditegur pimpinan itu lah yan menjadikan Nasir nekad untuk keluar dari KCM.

Selama dua minggu, Nasir langsung tidak berhubung dengan rakan-rakan KCM nya. SMS dari naqib nya juga terus dipadam tanpa dibaca. Kuliyah ilmu Fiqh, Sirah, semua sudah dilupakan. Nasir sudah nekad. Tak siapa lagi yang mampu untuk memujuk Nasir.

“Tak ada usrah hari ini?” tanya Rahim, teman sekuliyah Nasir.

“Entah. Aku dah tak ‘join’ mana-mana usrah.” Balas Nasir.

“Apa? Habis tu KCM?”

“Pergi mampus lah dengan KCM. Malas aku nak ambil tahu lagi. Aku dah bosan dengan KCM.”

“Laa, kenapa pulak kau ni. Dulu setia sangat dengan KCM. Sekarang tiba-tiba dah jadi musuh pulak.”

“Aku malas lah nak cakap pasal ni.” Nasir berlalu meninggalkan Rahim yang masih tertanya-tanya.

Pelik budak ni. Rahim memang tak faham sahabat nya yang seorang ni.

Nasir terus pulang ke bilik. Kelas Company Law dia ponteng. Tak ada ‘mood’ lagi nak belajar hari ini. Getus hati Nasir. Nasir menapak sahaja pulang ke mahallah. Malas nak bawa motor ke kuliyah. Lagipun hari ini hanya dua kelas sahaja. Membazir minyak. Kata Nasir apabila ditanya rakan-rakan.

Sampai di Mahallah Ali, Nasir singgah sebentar di kafe. Perut lapar mesti diisi. ‘Moody’ macam mana pun makan tetap makan. Ketika asyik makan, telinga Nasir menangkap perbualan dua manusia di meja sebelahnya. Nasir tak dapat menangkap semua yang mereka perbualkan. Namun perkataan yang jelas Nasir dengar adalah “Revolusi”. Revolusi? Menarik. Tapi kalau sekadar revolusi air liur basi, baik balik tanam jagung. Nasir tersenyum sendirian.

Agak asyik juga dua manusia tadi bersembang. Dan Nasir pula seolah ingin menyertai perbualan mereka. Namun bukan dia kenal pun mereka. Jadi Nasir duduk sahaja di mejanya sambil memasang telinga. Nasi sudah habis. Tinggal air saja buat “eksyen”. Semakin diamati, semakin jelas apa mereka bualkan.

“Kita sekarang dah tak cukup masa. Aku rasa dah sampai masa kita jalankan kerja buat kita untuk peringkat seterusnya.”

“Sabar, jangan gopoh. Kita tak boleh tergesa-gesa. Aku tak mahu rancangan kita gagal. Kita mesti hati-hati. Jangan lepas cakap. Nanti bahaya!”

“Aku tahu. Tapi kalau kita terus dengan rentak sekarang, aku bimbang kita akan terlepas ‘dateline’ kita.”

“Itu aku pun risau. Tapi tak mengapa, aku sudah sediakan ‘plan B’.”

“Apa dia?”

“Nanti, di bilik aku ceritakan. Jangan lupa malam ni datang ke bilik aku. Kita rancang rancangan kita seterusnya.”

“Baik, aku datang.”

“Demi Revolusi!”

“Ya, demi revolusi!”

Kedua lelaki tersebut bangun dan meninggalkan kafe. Nasir termenung sendirian. Apa agaknya yang mereka rancangkan? Tak pernah lagi aku dengan ada grup nak buat revolusi. Nasir bertanya-tanya sendirian. Pertanyaan yang tak mungkin berjawab kerana dia bertanya pada dirinya yang memang tak ada jawapan.

Tiba-tiba Nasir terlihat kelibat rakan-rakan KCM nya. Cepat-cepat Nasir angkat kaki. Malas aku nak tegur!